![]() |
| (Foto:dok/Sinergitas.id) |
SIDOARJO - Gagasan pembangunan di Desa Segoro Tambak, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, tidak jatuh dari langit. Ia dirajut dari forum-forum warga yang digelar rutin setiap tahun. Melalui Analisis Kebutuhan Partisipatif (AKP), pemerintah desa menyerap aspirasi petani dan nelayan sebelum menetapkannya sebagai program resmi.
Kepala Desa Segoro Tambak melalui Sekretaris Desa Edi Setiawan menuturkan, forum tersebut menjadi ruang penting untuk memastikan kebijakan desa tidak berjalan satu arah. Dalam AKP, seluruh unsur masyarakat diundang untuk memetakan kebutuhan paling mendesak.
“Dari situ kami tahu apa yang benar-benar dibutuhkan masing-masing kelompok. Program desa kami susun dari bawah ke atas,” jelas Edi saat ditemui, Senin, 5 Januari 2026.
![]() |
| (Foto:dok/Sinergitas.id) |
Hasil rembuk itu kemudian diterjemahkan ke dalam dokumen perencanaan desa. Usulan yang masuk disaring dan diprioritaskan, terutama yang berkaitan dengan sektor pertanian dan perikanan—dua penopang utama ekonomi warga pesisir Segoro Tambak. Ia menguraikan, sebagian besar program nelayan ditempatkan dalam skema pemberdayaan masyarakat.
Salah satu kebijakan yang kini mulai menunjukkan hasil adalah pelatihan pembuatan perahu fiber. Inisiatif ini berangkat dari kegelisahan desa melihat biaya perahu kayu yang terus meningkat, sementara kemampuan ekonomi nelayan kian terbatas.
Beberapa tahun lalu, perangkat desa bersama perwakilan nelayan melakukan studi banding ke Probolinggo. Dari sana, mereka menangkap peluang penggunaan bahan fiber sebagai alternatif. “Perahu kayu semakin mahal. Kami harus mencari pilihan yang lebih efisien bagi nelayan,” paparnya.
Tak berhenti pada kunjungan belajar, desa kemudian mendatangkan instruktur langsung ke Segoro Tambak. Pelatihan digelar dari tahap paling dasar hingga perahu siap digunakan. Dari proses itu lahir Paguyuban Kelompok Pembuat Perahu Fiber, wadah bagi nelayan yang menunjukkan minat dan keseriusan.
Perlahan, hasilnya terlihat. Hingga kini, kelompok tersebut telah memproduksi tujuh unit perahu fiber. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan sendiri, produk mereka mulai dilirik desa tetangga. Sekdes menilai capaian ini sebagai bukti bahwa pelatihan yang disertai pendampingan berkelanjutan dapat berdampak nyata.
“Pelatihan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kami ingin ada kelanjutan sampai warga benar-benar mandiri,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah desa juga mengalokasikan pengadaan perahu dengan memprioritaskan produk buatan kelompok lokal. Langkah ini, menurutnya, sekaligus menjadi strategi menjaga denyut usaha warga agar tetap berkelanjutan.
Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap sejumlah kendala. Tantangan utama saat ini terletak pada pemasaran dan pola pikir sebagian masyarakat. Masih ada anggapan bahwa bantuan desa adalah dana hibah yang tidak perlu dipertanggungjawabkan.
“Pola pikir seperti itu justru menjadi bumerang,” akunya.
Di sisi lain, jumlah nelayan di Segoro Tambak terus menurun dari tahun ke tahun. Kondisi ini mendorong desa mencari terobosan agar nelayan yang tersisa memiliki nilai tambah, bukan sekadar bergantung pada hasil tangkapan harian.
Menurutnya, desa tengah menyiapkan langkah agar nelayan mampu mengolah hasil perikanan sesuai kebutuhan pasar. Dengan begitu, nilai ekonomi tidak berhenti di laut, tetapi tumbuh di darat.
“Harapannya, nelayan Segoro Tambak tidak hanya bertahan, tapi bisa naik kelas,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan, Desa Segoro Tambak mencoba merawat harapan itu—berangkat dari rembuk warga, tumbuh lewat pelatihan, dan berujung pada upaya menjaga keberlanjutan hidup nelayan. demikian. (bgs)
Koordinator Liputan Daerah : Bagus Setyabudi




