-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemdes Kramatjegu Sidoarjo Gelar Ruwat Desa, Kades Samsul : Tradisi Budaya ini Harus Dilestarikan

Sabtu, 25 Juli 2026 | Juli 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-26T12:54:52Z

Kades Kramatjegu, H. Samsul Arifin Serahkan Gulungan ke Ki Dalang Slamet Dharmawan dalam acara wayang kulit dalam rangka ruwat desa. (Foto:Fajar/Candra/Sinergitas.id)
SIDOARJO - Pagelaran wayang kulit merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional dengan nilai budaya dan kearifan lokal nusantara dengan adanya dilaksanakannya acara Ruwat Desa atau Bersih Desa.


Ya, Salah satu desa yang masih melestarikan tradisi ini yakni Pemerintah Desa Kramatjegu, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo pada Sabtu (25/07/2026) malam.


Acara ruwat desa dengan pagelaran kulit ini menghadirkan Dalang asal Desa Watugolong, Kecamatan Krian yakni Ki Slamet Dharmawan dengan membawa lakon "Gatotkaca Winisuda"

Pertunjukan Kesenian Wayang Kulit semalam suntuk diperagakan langsung oleh Ki Dalang Slamet Dharmawan. (Foto:fajar/Candra/Sinergitas.id)
Kepala Desa Kramatjegu, H. Samsul Arifin mengatakan akan pentingnya menjaga tradisi yang diwariskan nenek moyang dalam bentuk uri-uri budaya dengan pagelaran wayang kulit suntuk. 

Menurutnya, dengan digelarnya pagelaran wayang kulit, masyarakat mampu mencintai sejarah dan mendapatkan keberkahan melalui acara ruwat desa.

Ratusan warga Kramatjegu memadati Halaman Kantor Desa untuk saksikan wayang kulit semalam suntuk (foto:Fajar/Candra/Sinergitas.id)
"Acara ini dimulai pukul 19.00 malam dengan campursari dan wayang kulit hingga dini hari 03.30 Wib. Antusias masyarakat luar biasa yang datang berbondong-bondong di halaman kantor desa untuk saksikan campursari dan wayang kulit semalam suntuk," Ujarnya.


Ia menyampaikan rasa syukur atas suksesnya acara ruwat desa ini. Menurutnya antusiasme masyarakat tetap tinggi dan prosesi acara ruwat desa berjalan dengan lancar.


"Kehadiran ratusan warga sangat antusias sehinga telah terbukti bahwa tradisi ini masih hidup dan tetap lestari," Ungkapnya.


Samsul juga menegaskan pelestarian budaya wayang kulit bukan sekedar pertunjukan, melainkan menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan rasa gotong-royong dalam kerukunan bermasyarakat.


"Dengan melestarikan tradisi budaya wayang kulit digelar tiap tahunnya, kita tidak hanya menjaga budaya saja. Tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bersama," Katanya.


Dalam peran wayang ini sebagai simbol untuk meruwat dan mengusir balak-balak desa. Selain itu, untuk ruwat acara bersih desa ini dapat menghindarkan dari segala musibah.


"Jadi kalau ruwat desa ini, insya Allah, desa dan masyarakat ini bisa terhindar dari segala bentuk musibah dan bencana apapun" tandasnya.

×
Berita Terbaru Update